Selasa, 22 Januari 2013

SABAR, PEMAAF, DAN IKHLAS MENANGGUNG PEDIH DAN DERITA ADALAH SETINGGI- TINGGI AKHLAK ORANG- ORANG YANG TAQWA




Sabar, Pemaaf, dan ikhlas menanggung  pedih dan derita adalah setinggi- tinggi  akhlak Orang- orang yang taqwa

Allah berfirman :

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (١٣٣)الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (١٣٤)

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,(133) (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun  sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.(ALI IMRAAN: 133- 134). 

Sabar dan bertaqwa adalah akhlak yang harus diutamakan:
Allah berfirman :

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ (١٨٦)


Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.( ALI IMRAAN : 186). 

Allah akan menguji hamba-Nya dengan beberapa ujian, dan barangsiapa SABAR DAN IKHLAS dalam menerima ujian, Allah akan memberikan berkah rahmah kepadanya.
Allah berfirman

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (١٥٥)الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (١٥٦)أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (١٥٧)

155. dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"[101].
157. mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

[101] Artinya: Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali. kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.

Tafsir : 
Dalam Ayat tersebut, Allah menguji kepada hamba-Nya dengan beberapa ujian, atau musibah: untuk menguji kekuatan jiwa dan keimanan seseorang:

1.   Allah menguji dengan dihadapkan kepada yang mendatangkan perasaan yang menakutklan, baik dengan adanya lawan atau musuh, atau sesuatu yang lain, yang bersifat menakutkan, atau yang merupakan musibah dalam kehidupan manusia ; ujian tersebut bisa berupa keluasan, atau keterbatasan rizki, atau dihadapkan kepada kekuatan sang penguasa, atau sesuatu yang lain, yang bisa mendatangkan kecemasan, atau ketakutan. Bahkan musibah, atau ujian tersebut, sebenarnya sesuatu yang harus terjadi dan berlaku pada alam ini, sesuai dengan Sunnatullah, yang berlaku pada makhluk-Nya; Yang jika bagi seseorang yang telah beriman, ia akan memahami dan mengerti, bahwa sesuatu musibah yang menimpa dirinya, tidak melebihi apa yang berlaku pada Qodhaa’ dan Qodar. Dan barangsiapa tidak mengerti, dan tidak memahami hal musibah tersebut, jelaslah, bahwa ia belum mendalami tentang kebenaran petunjuk Agamanya; dan ia belum memahanmi jalan yang harus ditempuh oleh orang-orang yang beriman.
2.  Ujian, atau musibah yang kedua, bisa datang sesudah seseorang itu lulus dari ujian yang pertama. Sesudah lulus dari ujian yang bersifat menakut-nakuti, maka ia akan dihadapkan kepada sesuatu yang bisa mendatangkan lapar, atau dahaga. Lapar dan dahaga, bisa datang karena seseorang itu kekurangan rizki, menjadi fakir atau miskin, kemudiabn tidak menemukan apa yang bisa mencukupi keperluan harian, untuk makan dan minum. Atau, lapar dan dahaga itu bisa datang karena  seseorang itu dalam keadaan sakit, tidak boleh banyak makan dan atau minum; sedang perbekalan semuanya  ada dan cukup. Dan apabila ujian yang kedua ini lulus, maka untuk ditingkatkan derajat sang hamba itu dengan ujian yang ketiga ; yaitu :
3.  Ujian atau musibah yang ketiga ialah “wanaqshim- minal- amwaal”, dikurangi dari hal harta-benda; bisa karena terjadi kehilangan, kecurian, ditipu, dijambret dan lain sebagainya, dikurangi dari hal yang biasa menjadi kebanggaan; bisa dari harta- benda, bisa dari hal ilmu,datang sifat lupa, bingung, ragu dan lain sebagainya. Dan  bisa dari hal kedudukan, jabatan dan lain sebagainya, diturunkan pangkatnya, diberhentikan dari pekerjaan, digantikan orang lain kedudukannya, pokoknya dikurangi. Dan ini juga teradat dalam kehidupan. Namun bagi seseorang yang belum memahami hakekat Iman, mereka menjadi cemas dalam kehidupan. Tetapi, bagi mereka yang beriman, hal tersebut akan difahami sebagai ujian untuk memperkuat imannya, sehingga peristiwa tersebut tidak menggoyahkan kehidupannya. Dan apabila seseorang itu lulus dari ujian yang ketiga ini, ia akan menghadapi ujian yang keempat:
4.  Ujian yang keempat, akan lebih berat dan lebih mengerikan, karena berhadapan dengan kejiwaan “ WA (NAQSHIM-MIN ) AL-ANFUSI”, dikurangi jiwanya; bisa dikurangi jiwanya, dari jiwa anaknya, isterinya, atau suaminya, dengan datangnya kematian, dan atau bisa dikurangi jiwanya, dengan dikurangi kewibawaannya, atau pengaruhnya,dan bisa dikurangi jiwanya, dengan dijatuhkan nama baiknya, dengan fitnah, atau su’udhon, disangka buruk; dan lain sebagainya. Dan apabila seseorang itu lulus dari ujian yang keempat, maka ia akan dihadapkan kepada ujian yang kelima:
5.  Ujian yang kelima, bisa dirasa dan dianggap yang paling berat “ WA (NAQSHIM-MIN) ATSTSAMARAATI, dikurangi dari apa yang hendak dipetik buahnya. Hal ini, bisa  berupa materi, bisa berupa buah jasa. Apa yang diharap buahnya untuk dipanen dengan baik dan menggembirakan, menjadi sesuatu yang sangat mengecewakan. Menanam sesuatu, yang diharap buahnya dengan baik, hanya menjadi sesuatu yang berbuah dengan sedikit. Menolong orang lain, diharap bisa menjadi saudara atau kawan, bahkan menjadi lawan. Semua macam apapun yang diharap buahnya dengan baik, akan menjadi sebaliknya, atau berkurang dari yang diharapkannya.
Demikianlah, tiap manusia itu akan dihadapkan kepada MUSHIBAH\ BALA”\ UJIAN; yang masing-masing besar kecilnya ujian, akan seimbang dengan besar kercilnya maksud dan cita- cita. Dan perlu diingat dan difahami. Tiada seseorang itu diuji, kecuali hanya untuk dinaikkan derajat dan kelasnya.Hal tersebut diterangkan pada akhir Ayat. Barangsiapa ya ng ketika ditimpa musibah, atau sedang  mengalami UJIAN, dan ia kembalikan semuanya kepada Allah, maka Allah akan memberi kekuatan lahir bathin, dan Allah akan memberi keberkahan dan rahmat-Nya bagi yang lulus dalam ujiannya. Sebagai alamat lulusnya seseorang dalam ujian, ialah apabila ia mengalami  tertimpa musibah, atau sedang mwengalami ujian ia kembali menyerah kepada Allah, sebagai intinya kalimat “INNA LILLAAHI, WAINNA ILAIHI RAAJI’UUN”; sesungguhnya aku adalah milik Allah, dan sesungguhnya aku haruslah kepada-Nya kembalikan segal;a urusan”.
Bagi mereka yang lulus Allah menyatakaN ;

أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (١٥٧)


Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.(ALBAQARAH:157).

Namun harus diingat juga, bahwa manusia  boleh menyusun  banyak maksud dan cita-cita, membuat program dan mentargetkannya. Tetapi Hanya Allahlah yang akan menentukan hasil baik dan jeleknya, sesuai dan senilai modal dan aktifitas baik ata jelek amaliahnya.Dan harus diingat juga, bahwa Allah akan menghargai aktifitas kerja yang baik dan bagus.
Allah berfirman ;

أَمْ لِلْإِنْسَانِ مَا تَمَنَّى(24)فَلِلَّهِ الْآخِرَةُ وَالْأُولَى(25)النجم

Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya?(24)
(Tidak), maka hanya bagi Allah( yang menwentukan hasilnya) kehidupan akhirat dan kehidupan dunia.(25;ANNAJM).
Dan Allah berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى(39)وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى(40)ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَى(41)وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى(42) وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى(43)وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا(44)النجم

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya(39) Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).(40) Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna,(41) dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu),(42) dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,(43) dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan,(44; ANNAJM).
Dan perlu diingat dan difahami, bahwa nasib manusia itu ada dua macam, ada yang akibat dari apa yang manusia pernah perbuat: dan  ada yang ia harus merasakan dan menerima balak atau ujian dari Allah:
Allah berrfirman:

أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ(202)البقرة

Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.(ALBAQARAH:202).

Dan Allah berfirman :

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ(51)التوبة

Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal."(ATTAUBAH: 51)

Dan tidak boleh diabaikan, bahwa Allah berkuasa merobah juga akan apa yang telah ditetapkan oleh Allah, untuk memberi fadhilah- karunia kepada hamba-Nya, atau Allah menetapkannya, sebagai yang telah dipastikan-Nya, karena semuanya adalah pada Kuasa Allah saja. Dan Allah tidak akan mengabaikan memberikan pengharghaan karunia kepada mereka yang bagus aktifitas amaliahnya.
Allah berfirman ;

يَمْحُوا اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ(39)الرعد

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).(ARRA’D; 39).
Allah sangat menghargai dan tidak mensia-siaskan untuk memberi fasdhilah keutamaan dan karunia kepada mereka yang bagus aktifitass amaliahnya;
Allah berfirmasn ;

وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ(120) وَلَا يُنْفِقُونَ نَفَقَةً صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً وَلَا يَقْطَعُونَ وَادِيًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ(121

dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik(120;ATTAUBAH(
dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.( ATTAUBAh “:121).
Rasulullah saw, sangat memuji kebaikan  orang orang yang Sabar dalam menghadapi tantangan dan kepadihan penderitaan, dan pemaaf atas kesalahan orang lain, serta menjauhkan diri dari perbuatan orang jahil.
Nabi saw, bersabda ;

عن أبى سعيد رضى الله عنه, أن النبي صلى الله عليه وسلم قال :" ما أعطي أحد عطاء خيرا وأوسع من الصبر ". رواه الخمسة.

Dari Abu Sa’id r.a. “ Sesungguhnya Nabi saw, bersabda :” Tidak ada yang diberikan kepada seseorang pemberian yang sesungguhnya yang lebih baik dan lebih luas daripada  “KESABARAN“. ( h. r. alkhomsah).

Dan Rasulullah saw, bersabda :

وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم :" المسلم إذا كان مخالطا الناس ويصبر على أذا هم خير من المسلم الذى لا يخالط الناس ولا يصبر على أذا هم ". رواه الترمذى.

Dan Rasulullah saw, bersabda:” Seorang Muslim yang berada bercampur dengan masyarakat dan ia SABAR atas kepedihan yang diperbuat oleh mereka, itu lebih bagus daripada seorang Muslim yang ia tidak bercampur dengan masyarakat dan TIDAK SABAR atas kepedihan yang diperbuat oleh mereka “.(H. R. ATTURMUDZIY).(ATTAJ; V; hl; 46).

Dan Nabi saw, bersabda :

عن أبى هريرة رضى الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال :" ما نقصت صدقة من مال وما زاد الله عبدا بعفو إلا عزا وما تواضع أحد لله إلا رفعه الله". رواه مسلم والترمذى.

Dari ABU Hurairah r.a. dari NABI saw, Nabi saw, bersabda :” Tidak akan  berkuranglah harta- benda yang disedekahkan,  dan tiada menambai Allah kepada seseorang dengan karena ampunannya, kecuali engan kemuliaan, dan tiada lemah-lembutnya seseorang karena Allah, kecuali Allah akan meningkatkan derajat seseorang itu “.(H.R.MUSLIM DAN TURMUDZIY).(attaj; v; HL; 46).

Barangsiapa menutup kesalahan saudaranya dari bencana yang mengancamnya, bagaikan ia menyelamatkan kematian anak dari penguburannya:
Nabi sa, bersabda :

عن عقبة بن عامر رضى الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال :" من رأى عورة فسترها كان كمن أحيا مؤدة". رواه أبو داود والنسائ

Dari ‘Uqbah bin ‘Aamir r.a, dari Nabi saw, Nabi saw, bersabda :” Barangsiapa melihat kesalahan saudaranya, maka ia menutupinya adalah ia seakan- akan bagaikan orang yang menghidupkan anak yang terkubur hidup-hidup”.( H.R. ABU DAWUD dan ANNASAAIY).

Barangsiapa mengetahui kesalahan orang lain, dan ia menasihatinya “agar tidak mengulangi lagi, dan ia menutup kesalahan itu, tidak menyiarkannya, maka ia seakan-akan bagaikan menyelamatkan anak yang terkubur, sebelum kematiannya. (ATTAJ; v; hl; 48).
Dan Nabi saw, bersabda :

عن أبى الدرداء رضى الله عنه " أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:" من رد عن عرض أخيه رد الله عن وجهه النار يوم القيامة". رواه الترمذى وأحمد.

Dari Abud-Dardaa’, r.a, “Sesungguhnya Rasulallah saw, bersabda :” Barangsiapa menyelamatkan aib dari kehormatan saudaranya, Allah akan menyelamatkannya dari jilatan api neraka dari wajahnya di hari kiamat”. (H.R. Turmudziy dan Ahmad).(ATTAJ;v; HL; 49).
Dan Nabi saw, bersabda :

عن أبى هريرة رضى الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال :" المؤمن مرءاة المؤمن والمؤمن أخو المؤمن يكف عليه ضيعته ويحوطه من ورائه". رواه أبو داود والترمذى.

Dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi saw, Nabi saw, bersabda :” Orang mukmin itu bagaikabn cermin terhadap saudaranya sesama mukmin, dan orang mukmin itu benar-benar sesaudara dengan sesama mukmin, ia akan menutup atasnya akan terlihatnya aibnya, dan ia akan memeliharanya rahasia itu dengan diam- diam”.(H,R, ABU DAWUD dan TURMUDZIY)(ATTAJ;V;hl; 49).
Keagungan Nilai “KESABARAN” Dalam Menghadapi “MUSIBAH”,
Dan  “ QONA’AH”- Sudi menerima apa yang yang terjadi pada dirinya”

" ماشاء الله كان وإن لم يشاء لم يكن"

Apa saja yang telah dikehendaki oleh Allah pasti jadi, dan jika Allah tidak menghendaki, tidaklah sesuatu itu terjadi “.
Allah berfirman :
قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ(51)التوبة

Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal."(ATTAUBAH;51).
Dari Al-Hasan AL-Bishriy:
" من لا صبر له لادين له, ومن لا ورع له لا زلفى له"

Barangsiapa tidak memiliki “KESABARAN”, berarti ia tidak memiliki jiwa Agama. Dan barangsiapa tidak berakhlak- WIRA’I (beraakhlak-Agama), tidaklah ia dapat berdekat dengan Allah”. (AL-ISTI’DAAD LIYAUMIL-MA’AAD : hl;20).

"أسعد الناس من له قلب عالم وبدن صابر وقناعة بما فى اليد"

Sebahagia- bahagia seseorang ialah orang yang memiliki hati yang awas, memiliki  kekuatan “ KESABARAN”, dan sudi menerima apa yang terjadi pada dirinya”. (ibid ; hl; 22).
Daripada tanda-tanda akhlak orang yang beriman- beragama, ialah : Yakin,bahwa apa yang terjadi pada dirinya tidaklah luput dari apa yang dikehendaki Allah untuknya, atau akibat daripada amalnya yang pernah dilakukannya, dan itulah ujian yang harus diterimanya  dengan kesabaran, dan sudi menerima dengan ikhlas dan rela.

عن على رضى الله عنه " من لم يكن عنده سنة الله وسنة رسوله وسنة أوليا ئه , فليس فى يده شئ . قيل له :" ما سنة الله؟ قال :" كتمان السر. وقيل ما سنة الرسول؟ قال :" المدارة بين الناس. وقيل ما سنة أوليا ئه ؟ قال :" إحتمال الأذى عن الناس".

Dari Ali r.a, “ Barangsiapa yang tidak ada padanya Sunnatullah, Sunnah Rasul-Nya, dan sunnah Auliyaa-Nya; maka  berarti ia tidak memiliki sesuatu apapun. Ditanyakan kepadanya:” Apakah Sunnah Allah itu? Dia menjawab :” Menyimpan suatu rahasia”. Dan apa Sunnah Rasul itu? Dia menjawab :”ALMUDAARAH BAINANNAAS”, berbuat lunak hati terrhadap sesama manusia”. Dan apa Sunnah Auliyaa’ Allah itu? Dia menjawab :” IHTIMAALUL- “ADZAA ‘ANIN-NAAS”; mampu-tahan menanggung derita yang diperbuat orang lain terhadap dirinya”.(AL-ISTI’DAAD LIYAUMIL-MA’AAD :ibbnu hajar al-‘asqolaniy; hl; 23).


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar